Di era sekarang, belajar tidak lagi terbatas pada ruang kelas. Buku tetap penting, tetapi pengalaman melihat, mendengar, bertanya, dan merasakan langsung juga merupakan bagian dari proses belajar yang sangat berharga. Karena itu, Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Kabupaten Sikka mengembangkan sebuah inovasi yang kami beri nama Wisata Literasi dan Sains.
Program ini lahir dari keyakinan bahwa literasi bukan hanya kemampuan membaca dan menulis, tetapi juga kemampuan memahami kehidupan, mengenal lingkungan, berpikir kritis, dan membangun karakter.
Melalui konsep Paket Wisata Literasi, para pelajar diajak mengunjungi berbagai tempat yang menjadi sumber pengetahuan. Mereka dapat belajar di Gramedia Maumere, mengunjungi Kantor Bupati Sikka, Kantor DPRD Kabupaten Sikka, instansi vertikal, organisasi perangkat daerah, lembaga non-pemerintah, Credit Union, koperasi, pelaku UMKM, hingga berbagai lembaga lain yang relevan dengan materi pembelajaran. Seluruh rangkaian kegiatan kemudian diakhiri di Perpustakaan Umum Daerah Frans Seda Kabupaten Sikka sebagai rumah besar literasi masyarakat.
Anak-anak tidak hanya melihat gedung atau ruangan. Mereka dapat berdialog langsung dengan para pemimpin, pegawai, pelaku usaha, dan tokoh masyarakat. Mereka belajar bagaimana sebuah keputusan diambil, bagaimana pelayanan publik diberikan, bagaimana usaha dibangun, dan bagaimana pengetahuan menjadi bekal untuk masa depan.
Salah satu kegiatan yang paling menarik dalam program ini adalah "Satu Jam Menjadi Bupati" dan "Satu Jam Menjadi Ketua DPRD." Dalam kegiatan ini, para pelajar diajak merasakan bagaimana menjadi seorang pemimpin. Mereka belajar tentang tanggung jawab, cara mengambil keputusan, pentingnya musyawarah, serta arti melayani masyarakat dengan hati.
Kami ingin menanamkan kepada generasi muda bahwa seorang pemimpin bukanlah orang yang paling berkuasa, tetapi orang yang paling bertanggung jawab. Kepemimpinan adalah pengabdian, bukan sekadar jabatan.
Melalui Wisata Literasi dan Sains, kami berharap lahir generasi yang gemar membaca, berani bertanya, mampu berpikir kritis, mencintai daerahnya, dan memiliki cita-cita besar untuk membangun Kabupaten Sikka.
Perpustakaan tidak boleh hanya dikenal sebagai tempat meminjam buku. Perpustakaan harus hadir sebagai pusat belajar sepanjang hayat yang menghubungkan masyarakat dengan berbagai sumber ilmu pengetahuan. Karena itu, kami membuka ruang kolaborasi dengan sekolah, perguruan tinggi, dunia usaha, lembaga pemerintah, organisasi masyarakat, dan semua pihak yang ingin bersama-sama membangun budaya literasi di Kabupaten Sikka.
Kami mengajak seluruh sekolah memanfaatkan Program Wisata Literasi dan Sains ini sebagai bagian dari proses pembelajaran. Ketika anak-anak belajar langsung dari kehidupan nyata, mereka tidak hanya memperoleh pengetahuan, tetapi juga pengalaman yang akan mereka ingat sepanjang hidup.
Mari kita jadikan Kabupaten Sikka sebagai kabupaten yang tidak hanya gemar membaca, tetapi juga gemar belajar dari kehidupan. Sebab literasi bukan sekadar membuka buku, melainkan juga membuka wawasan, membuka pikiran, dan membuka masa depan.